Suprapto Kadis, Mursyid Pendiri Thariqah Kadisiyah

Suprapto Kadis

Bapak Suprapto Kadis adalah seorang putera Jawa, dilahirkan pada hari Sabtu Legi, 13 April 1929 Masehi (4 Dzulqa’dah 1347 Hijriah), saat Maghrib tiba di Karang Tawang, sebuah desa penghasil nira yang terletak di pelosok teluk Cilacap, Jawa Tengah. Beliau adalah anak laki-laki pertama dari pasangan Bapak Kadis Darmosuharto dan Ibu Siti Jamilah yang merupakan keluarga terpandang di desa tersebut.

Kadis Darmosuharto, seorang Kepala Sekolah Volksschool atau Sekolah Rakyat (SR), kerap dipanggil dengan sebutan Ndoro Guru Kadis, merupakan pendatang di Karang Tawang. Kadis Darmosuharto adalah cucu dari Mangkuredja seorang Lurah Desa Klapa Sawit, Kecamatan Bulus Pesantren, Kebumen. Bulus Pesantren dikenal sebagai kecamatan yang banyak memiliki pesantren sejak tahun 1800-an. Selain sebagai guru SR, Beliau juga dikenal sebagai santri yang berguru kepada Kyai Ilyas di Pedukuhan Alas Malang, Kebumen.

Dari garis sang Ayah, Bapak Suprapto Kadis adalah keturunan ke-9 dari Sunan Kalijaga (Raden Mas Syahid). Adapun Kakek dari garis Ibu adalah Haji Margani, seorang saudagar berdarah Pulau Bawean, merupakan orang terkaya di Desa Karang Tawang. Saat itu, Suprapto kecil merupakan satu-satunya anak yang mempunyai sepeda roda tiga di desanya.

Kesulitan dalam Hidup

Saat menginjak usia 9 tahun, kehidupan berbalik arah bagi Suprapto kecil. Kedua orang tuanya bercerai. Beliau mengikuti Ayahnya dengan tetap tinggal di Karang Tawang, sementara sang Ibu merantau ke Medan, Sumatera Utara. Setelah Ayahnya menikah kembali, kehidupan Suprapto kecil menjadi tidak semudah sebelumnya. Beliau kerap harus menggembalakan kambing dan kerbau. Dengan kerasnya kehidupan pada masa kecil, akhirnya Beliau berhasil menyelesaikan tingkat SMP-nya tepat dua bulan sebelum terjadi Agresi Militer I pada tahun 1947. Setelah tamat pendidikan menengah, Beliau bergabung dalam korps tentara pelajar.

Di usia 19 tahun Beliau dinikahkan dengan Sumarni, salah seorang teman sekolahnya yang juga putri dari Kepala Desa Karang Tawang. Beliau meneruskan studinya ke Sekolah Teknik Menengah (STM) Jurusan Listrik di Kota Yogyakarta dan Malang, Jawa Timur, dan menyelesaikannya pada tahun 1954. Setelah itu Beliau melanjutkan studi ke Akademi Teknik Nasional di Jakarta, namun tidak selesai karena terkena wajib mengajar.

Tahun 1962 Bapak Suprapto Kadis memulai karirnya di PN Peprida, sebuah perusahaan milik pemerintah untuk melaksanakan pembangunan proyek-proyek industri dasar di Departemen Perindustrian Dasar dan Pertambangan (Deperdatam) RI pada Biro Perencana dan Pelaksana Proyek Industri (BP3I). Pada tahun berikutnya ditempatkan di Pabrik Kertas Gowa Makassar, Sulawesi Selatan. Beliau pernah diangkat menjadi pengawas listrik di Gedung CONEFO pada tahun 1965 yang pada saat ini menjadi Gedung MPR.

Ketidakpastian politik pada tahun 1965 membuat banyak proyek pemerintah dihentikan. Karena proyek kosong, Beliau mencoba menghidupi keluarganya di Jakarta dengan berbagai macam usaha, namun semua usahanya tersebut gagal.

Perintah dan Tuntunan Mendalami Agama Rasulullah SAW

Diterpa kesulitan hidup di Jakarta dengan amanah 6 orang anak, Beliau kemudian melakukan puasa-puasa sunnah sebagai bentuk memohon pertolongan Allah SWT agar diberikan jalan keluar bagi kesulitan hidup yang Beliau tengah hadapi. Beliau kemudian diajak oleh kakak iparnya untuk melakukan tirakat, tradisi di masa itu, di sebuah makam yang dikeramatkan di Desa Prembun, Kroya, yang merupakan makam seorang ulama, yaitu K.H. Abdul Hamid, yang masih merupakan leluhur dari istri Beliau.

Pada tengah malam hari pertama, Beliau mengalami pengalaman ruhani yang sangat kuat. Hadir sosok yang memerintahkan Beliau untuk meninggalkan makam tersebut, agar segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke Masjid, untuk melakukan proses pertaubatan dengan jalan mendalami Agama Islam dengan benar hingga ke hakikatnya. Beliau pun segera meninggalkan tempat tersebut tanpa menunggu malam berakhir.

Bapak Suprapto Kadis kembali ke Jakarta dan mulai mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah secara sungguh-sungguh dalam rangka bertaubat dan membangun ketakwaan kepada Allah SWT, agar terbuka rahmat dan pertolongan Allah SWT.

وَمَن يَتَّقِ اللَّـهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَ‌جًا

Barang siapa bertaqwa niscaya Allah akan memberikan jalan keluar kepadanya. – Q.S. Ath-Thalaaq [65]: 2

Di pertengahan tahun 1968, Bapak Suprapto Kadis mencatat sebuah peristiwa yang cukup membekas pada Buku Harian-nya. Pada saat Beliau hendak duduk sebentar sepulang dari kantor, tiba-tiba mendengar suara yang berbicara dari dalam dadanya sendiri, “Shalatlah kamu jangan menunda-nunda!” – badannya terbangun dan bergerak sendiri tanpa bisa dikendalikan. Kemudian tubuhnya berwudhu dan mengambil baju putih untuk dipakai shalat, “Shalatlah kamu dengan baju khusus untuk shalat!”.

Semenjak saat itu, suara dari dalam dada terus menuntun Beliau tentang bagaimana cara melakukan shalat dengan benar, mengajari berbagai aspek syariat Agama hingga ke hakikatnya.

وَاتَّقُوا اللَّـهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّـهُ ۗ

Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarimu! – Q.S. Al-Baqarah [2]: 282

Di rumah kontrakan Beliau yang kecil di daerah Cilandak, Jakarta Selatan, proses pendidikan keagamaan yang unik ini terus berlanjut. Selama tujuh bulan penuh di tahun 1968, Bapak Suprapto Kadis tidak bisa tidur malam, namun demikian Beliau tidak pernah mengantuk. Setiap malam Beliau diajari secara langsung berbagai aspek mengenai Agama Allah, dan mulai menerima anugerah-anugerah-Nya berupa Nur Ilmu, yang di dalam khazanah tasawuf disebut sebagai Ilmu Ladunni.

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَ‌حْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا

Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan telah Kami ajarkan kepadanya Ilmu dari sisi Kami. – Q.S. Al-Kahfi [18]: 65

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرً‌ا كَثِيرً‌ا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ‌ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Allah menganugerahkan al-Hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang dianugrahi al-Hikmah maka sungguh ia telah dianugerahi kebaikan yang sangat banyak. Dan tidak ada yang mampu untuk mengambil pelajaran kecuali Ulil Albaab. – Q.S. Al-Baqarah [2]: 269

Pada tanggal 15 Juli 1968, menjelang usia 40 tahun, Bapak Suprapto Kadis dipertemukan Allah SWT dengan jiwa sejatinya dan dianugrahi qudrah-diri sehingga Beliau menjadi memahami misi hidupnya, tujuan penciptaan dirinya di muka Bumi. Tugas hidup Beliau adalah sebagai pembimbing manusia untuk taqarrub kepada Allah SWT melalui jalan pertaubatan. Dengan bekal anugrah Allah SWT berupa Nur Ilmu Kemursyidan, secara formal Beliau diperintahkan untuk memulai bertugas sebagai Mursyid sebuah thariqah baru pada usia 63 tahun, 23 tahun dihitung dari usia 40 tahun (1969). Diberitakan kepada Beliau bahwa angka 63 itu sebagai sebuah ungkapan simbolis bagi penerus Ilmu Nabi Muhammad SAW yang wafat pada usia 63 tahun di Madinah.

Barang siapa mengenal jiwanya maka akan mengenal Rabb-nya.

Mendirikan Thariqah Kadisiyah

Bapak Suprapto Kadis pun melanjutkan hidupnya sebagai seorang pekerja biasa. Beliau melanjutkan karirnya sebagai seorang ahli teknik listrik dan pada tahun 1974 menjadi karyawan di PT Krakatau Steel Cilegon untuk menangani proyek PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap).

Pada rentang tahun 1977-1979 Beliau ditugaskan untuk menimba ilmu di Jerman (saat itu Jerman Barat). Dalam rangka studi tersebut, Beliau sempat berdiam di beberapa kota antara lain di Nuremberg, Voerde dan Erlangen, untuk mempelajari lebih dalam tentang teknik pengoperasian mesin-mesin yang digunakan di PLTU tersebut. Beliau melanjutkan pekerjaannya di PT Krakatau Steel hingga memasuki masa pensiun pada tahun 1988.

Pada rentang waktu 3 tahun (1988-1991), Beliau diizinkan Allah SWT untuk mulai belajar membimbing dan membuka (menginisiasi) para calon salik, calon pejalan untuk taqarrub ilallah melalui jalan pertaubatan. Masa belajar menjadi Mursyid ini ditutup dengan membuka anak menantunya, Zamzam A.J. Tanuwijaya, untuk menjadi murid dalam Thariqah Kadisiyyah pada 28 Juni 1991, Jum’at dini hari di ruang mushalla kediaman Bapak Suprapto Kadis di Cilegon. Menantunya ini kemudian ditugasi untuk mengajari para calon salik lain dengan ilmu-ilmu tentang jalan pertaubatan dan suluk berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang telah Beliau ajarkan sejak tahun 1985. Materi kajian untuk para calon pejalan suluk ini kemudian dinamai Kajian Serambi Suluk.

Sesuai petunjuk yang diterima pada tahun 1968, maka mulai tahun 1992 bertepatan dengan usia Bapak Suprapto Kadis 63 tahun, secara resmi Beliau memulai tugas utama hidupnya di Bumi sebagai Mursyid Thariqah Kadisiyah dengan menginisiasi salah satu putrinya, beserta beberapa sahabat dari putrinya dan dari menantunya.

Hingga tahun 1994, jumlah salik Kadisiyah di Bandung telah mencapai 45 orang. Kemudian Mursyid memerintahkan kepada Zamzam untuk membuat wadah perhimpunan bagi para salik yang dinamai “Paramartha” yang artinya kesatuan akal budi dalam kasih sayang. Maka pada tahun tersebut berdirilah Yayasan Pendidikan Paramartha (YPP), kemudian berganti nama menjadi Yayasan Islam Paramartha (YIP), dan terakhir menjadi Perkumpulan Islam Paramartha-Kadisiyah (PIPK), merupakan wadah aktualisasi dharma bagi para salik Kadisiyah dalam mencari jati diri dan amal shalihnya.

Berawal dari pengajian-pengajian rumahan yang sederhana di Kota Bandung, Cilegon, dan Jakarta, maka dalam rentang 20 tahun perlahan-lahan para salik Kadisiyah tersebar di banyak wilayah seperti Depok, Tangerang, Bekasi, Bandung, Makassar, Malang, Surabaya, Pekanbaru, dan Pontianak. Juga tersebar di luar negeri seperti Philadelphia (Amerika Serikat), Ho Chi Minh City (Vietnam), Odense (Denmark), dan Amsterdam (Belanda).

Sebagaimana diberitakan oleh Bapak Suprapto Kadis sendiri, tugas kemursyidan Beliau ditetapkan Allah SWT selama dwi-windu atau 16 tahun terhitung mulai tahun 1992 hingga 2008. Beliau diperintahkan Allah SWT untuk pindah ke Kota Bandung pada tahun 2008 dalam rangka memindahkan pusat Thariqah Kadisiyah ke tempat di mana terdapat populasi terbanyak dari murid beliau berada. Beliau menghabiskan sisa hidupnya di kota ini selama tiga tahun di tengah-tengah para muridnya.

Bapak Suprapto Kadis wafat di Bandung menjelang Subuh tanggal 13 Agustus 2011 Masehi (13 Ramadhan 1432 Hijriah) pada usia 82 tahun. Beliau dimakamkan menjelang waktu Ashar di kaki Gunung Mandalawangi, Desa Mandalasari, Kabupaten Bandung, wilayah Bandung Timur. Sepeninggal Beliau, penerima mandat ilahiyah untuk melanjutkan kemursyidan Kadisiyah adalah Zamzam A.J. Tanuwijaya. Sebagaimana Bapak Suprapto Kadis, Bapak Zamzam ditugaskan membimbing manusia di jalan pertaubatan dengan berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, memandu manusia kembali kepada fitrah dan jati dirinya yang hakiki.[]

Sumber:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: